oleh

SEMANGAT KARTINI DI ERA INDUSTRI 4.0 DALAM MENDIDIK ANAK

Prof. Hj. Isnawijayani MSi, Ph.D
Dekan Fikom Universitas Bina Darma

Pada 2 Mei 1964 Presiden Soekarno memberikan gelar pahlawan kemerdekaan nasional kepada Kartini. Sebab ia berperan dalam membela kaum perempuan dari kebodohan saat itu. Kartini berperan aktif memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki. Untung di Indonesia ada Kartini yang berkesempatan berksekolah seperti anak-anak perempuan di Eropa. Untungnya lagi Kartini dapat berbahasa Belanda yang ia pelajari dari kakaknya pelajar di ELS (Europese Lagere School). Ia dapat bersekolah atas ijin Belanda karena ia anak seorang wedana. Kartini lahir 21 April 1879 dan meninggal 17 September 1904. tetap meninggalkan warisan perjuangan kaum wanita untuk maju dan Ia dapat mengekspreikan keinginan itu dengan berkorespondensi dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri.

Sayangnya ia bersekolah hanya sampai usia 12 tahun, setelah itu ia harus dipingit untuk dinikahkan. Otomatis iapun harus berhenti sekolah. Pemikirannya kemudian dibukukan oleh Mr. JH, Abendanon diberi judul Door Duisternis Tot Lcht, yang dikenal dengan buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini berpesan “Jadilah manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi Wanita sepenuhnya”. Wanita yang sudah maju dan modern tetaplah jadi wanita dengan kodratnya.

Kartini ingin bebas dari keterkekangan dan keterbelengguan. Bukan bebas sekehendak hati, tetapi ingin diberikan kebebasan dalam memperoleh pendidikan, kebebasan mengemukakan pendapat dan kebebasan dalam menentukan kehidupan perempuan.

Zamanpun berganti kita mengahadapi kehidupan yang dikenal dengan revolus industri 1,2,3, dan 4 yang ditandai dengan, (1) Penemuan Mesin Uap mendorong munculnya kapal uap, kereta api, dll,. (2) Penemuan listrik dan assembly line yang meningkatkan produksi barang, (3). Inovasi teknologi informasi, komersialiasi personal computer, dll. (4). Kegiatan manufaktur terintegrasi melalui penggunaan teknologi wireless dan big data secara masif.

Setelah Kartini, lahir generasi Baby Boomer (1946-1964) berjiwa petualang, optimistik, berorientasi kerja dan anti pemerintah. Generasi X (1965-1980) yang indivudualis, luwes skeptis terhadap wewenang, harapan yang tinggi terhadap pekerjaan. Generasi Y (1980-1995), Generasi Z (1995-2010) ynng menghargai keberagaman, menghendaki perubahan sosial, suka berbagi, berorientasi pada target. Generasi Milenial (1977-2009) yang percaya diri berorientasi terhadap kesuksesan, toleran, kompetitif dan haus kesuksesan. Gadget sudah menjadi bagian hidup mereka sepenuhnya, tidak bisa hidup tanpa smart phone. Generasi Alpha (2010-sekarang) yang belum terdeteksi sifat-sifatnya.

Yang jelas generasi Alfa paling terdidik karena berkesempatan sekolah yang lebih banyak, akrab dengan teknologi, paling sejahtera, punya jarak umur paling jauh dari generasi sebelumnya, mengalahkan jarak baby boomer dengan generasi X. Dan generasi alfa sangat tergantung dengan teknologi melebihi dari generasi milenial dan Z. Yang Sejak lahir mereka sudah hidup di dunia dengan perkembangan teknologi yang pesat. Gadget sudah menjadi bagian dari hidup mereka sepenuhnya. Mereka tumbuh dengan iPad di tangan, tidak bisa hidup tanpa smartphone, dan mampu mengoperasikan gadget hanya dengan mengenali tombol-tombolnya. Perubahan teknologi yang masif ini membuat anak Generasi Z dan Alfa sebagai generasi paling transformatif.

Generasi paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Dengan umur mereka yang masih sangat muda, mereka memengaruhi putaran ekonomi dunia. Menurut ahli strategi pemasaran, Christine Carter, generasi Alfa menghabiskan 18 juta dolar per tahun hanya untuk konsumsi mainan, pakaian, dan perangkat teknologi baru yang cuma ada di zaman ini.

Kemajuan teknologi yang pesat ini ke depannya akan memengaruhi mereka, mulai dari gaya belajar, materi yang dipelajari di sekolah, sampai dengan pergaulan mereka sehari-hari. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi batasan, jarak semakin tidak berarti, pergaulan tidak lagi ditentukan dari faktor lokasi. Tidak heran, dari semua yang mereka dapatkan membuat Generasi Alfa ini menjadi lebih cerdas dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Jadi Bagaimana mengahadapi Generasi Z dan Generasi Alfa di tengah Industri 4.0? Ibu Kartini kini dalam mendidik anak harus Beri pendidikan agama dengan baik lalu Ajarkan sopan santun dan tanamkan nilai-nilai kekeluargaan. Bantu tingkatkan kemauan berjuang anak agar tidak mudah putus asa dan bosan. Ajak dan ajari anak untuk bersosialisasi. Beri batasan terhadap gadget. Pada anak 2-3 tahun, screen time maksimal 30 menit. Kemudian ganti dengan melakukan aktivitas lain seperti bermain di outdoor.Lakukan eye contact dan komunikasi dua arah dengan anak karena hal ini penting bagi perkembangan si kecil. Beri anak permainan edukatif. Bila melalui gadget, usahakan Anda lebih interaktif. Kartini kini dalam menghadapi kedua generasi ini membutuhkan kepekaan terhadap teknologi dan perkembangan zaman.
Hal itulah yang dipedomani sebagai semangat jika ingin berjuang seperti Kartini. Di Era yang serba canggih ini kita kaum perempuan wajib selalu belajar dengan mengetahui informasi baru dalam segala hal, berjaringan banyak teman, membaca, selalu berkeinginan termotivasi meningkatkan status diri. Bukan hanya status di Handphone yang di update.

Cita-cita Kartini telah terwujud dengan banyaknya kaum perempuan yang berpendidikan tinggi dan menduduki jabatan penting, namun disatu sisi masih banyak kaum perempuan yang belum mendapatkan perlakuan secara adil. Ketidakadilan ini merupakan ketidakadilan social dan merupakan cerita klasik tertua dalam sejarah manusia. Walaupun dunia sudah maju, masih terdengar bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk adam, sehingga lahir gambaran inferioritas perempuan. Hal inilah yang harus menjadi semangat perempuan Indonesia dalam melanjutkan cita-cita kartini, cerdas, tanggap berharkat dan bermartabat dan bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan yang berteknologi canggih di era industri 4.0. Selamat Hari Kartini.