by

Menkominfo Ajak Wartawan Lawan Hoaks

banner 970x250

Menkominfo Riantara bersama jurnalis setelah menyampaikan materi pada workshop Kesadaran Bela Negara di Jogjakarta, Rabu (27/03).

*Wujud Bentuk Bela Negara

JOGJAKARTA– Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengajak jurnalis dan pekerja media untuk melawan penyebaran hoaks atau berita bohong.

‘’Peran jurnalis sangat penting untuk bisa menangkal hoaks. Ini juga salah satu bentuk bela negara di dunia digital,’’ kata Rudiantara saat membuka Workshop Pendidikan Peningkatan Kesadaran Bela Negara Pekerja Media Tingkat Nasional di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Sleman, Jogjakarta, Rabu (27/03) yang lalu.

Kementerian Kominfo sendiri, menurut dia, telah melakukan berbagai upaya dalam menangani dan menanggulangi penyebaran hoaks. Ada patroli siber Tim AIS (dilengkapi mesin pengais konten negatif) yang melakukan verifikasi dan klarifikasi.

Dengan memasukkan kata kunci tertentu, AIS hanya membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 menit untuk menemukan situs dan akun media sosial penyebar konten negatif. Potensi viral-nya konten negatif tersebut juga bisa teridentifikasi. Namun, Rudiantara mengimbau masyarakat tak perlu khawatir soal privasi atau kemungkinan internet di Indonesia bakal penuh sensor.

Ia menjamin tim AIS tak akan digunakan untuk mengawasi semua pengguna internet dan media sosial. Kami paham bahwa perlindungan terhadap privasi pengguna internet Indonesia adalah harga mati, jelasnya.

AIS hanya mempercepat proses crawling konten negatif yang tadinya dilakukan secara manual. Mesin itu tak dibekali senjata pembunuh situs, akun media sosial, portal berita, dan lainnya.

Hasil temuan AIS akan diverifikasi ulang oleh tim verifikator yang terpilih dan terlatih. Bukti nyata konten negatif akan di-screencapture, lalu diteruskan ke tim eksekutor untuk tindakan terakhir.

Jika sebuah situs atau akun memang dianggap meresahkan dan melanggar aturan yang berlaku di Indonesia, tim eksekutor akan memblokirnya dengan berkoordinasi ke penyedia jasa internet dan penyelenggara media sosial. Selain itu, kami juga melakukan pendidikan atau literasi kepada masyarakat dengan Program Miss Lambe Hoaks, ujarnya.

Hasil pantauan Tim AIS, menurut Menkominfo, selama Februari 2019 Kementerian Kominfo menemukan sebanyak 353 isu hoaks, dengan tiga besar konten berkaitan dengan politik, pemerintahan, dan kesehatan.

Temuan sebanyak itu, mungkin karena sekarang masuk tahun politik. Seharusnya demokrasi itufun (menyenangkan). Karena itu, Pemilu harusfun. Di sinilah peran jurnalis sangat penting untuk bisa menangkal hoaks, kata Menkominfo.

Menurut dia, produsen hoaks sudah sangat sistematis dan terarah terlebih memasuki masa genting Pemilu 2019. Ini yang harus kita waspadai, terkadang produsen hoaks itu tidak berasal dari orang Indonesia. Ada dugaan berasal dari keterlibatan kepentingan asing.

Sementara, dalam workshop bertema Membangun Sumber Daya dengan Disiplin Nasional yang digelar Institut Lembaga Sembilan (L-9) bekerjasama TNI AU, Aksi Bela Negara RI, Serikat Perusahaan Pers (SPS) dan Fox News Indonesia yang dihadiri ratusan pekerja media dari berbagai daerah itu. Palembang Pos sendiri menjadi salah satu peserta kegiatan tersebut.

Menteri Kominfo juga menyatakan pemerintah sedang berupaya menghubungkan Indonesia dengan internet kecepatan tinggi. Selain memperluas jaringan internet di desa, juga menghubungkan internet berkecepatan tinggi di sekolah, puskesmas dan lainnya. Bagaimana cara menghubungkannya, yakni dengan Palapa Ring.

Bahkan, saat ini tengah disiapkan rencana untuk membangun satelit milik pemerintah agar bisa menjangkau semua desa. Saya

‘’berharap, tahun 2022 nanti satelit sudah ada dan bisa melayani seluruh desa di Indonesia, jelas Rudiantara seraya mengajak untuk memanfaatkan internet dengan bijak,’’ katanya.

Dalam acara tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dijadwalkan hadir sempat memberikan kata sambutan melalui rekaman video yang berisikan ucapan, selamat melaksanankan workshop bagi para pekerja media.

‘’Semoga kegiatan ini dapat makin menumbuhkan rasa kecintaan terhadap negara,’’ tutur JK.

Sementara, Ketua Umum SPS Indonesia HM Alwi Hamu yang dibacakan Dr Agus S menyatakan, workshop bela negara ini digelar seiring memudarnya rasa nasionalisme rakyat Indonesia. Tentu semua juga disebabkan pola komunikasi dan penyampaian informasi bisa dilakukan dari mana saja, lantaran semakin canggihnya alat komunikasi.

Di bagian lain, panitia penyelenggara yang juga Kadispenau Marsma TNI Novyan Samyoga menyatakan, kegiatan tersebut sangat penting. Karenanya, peserta harus bisa menyebarluaskan apa yang didapat di lingkungannya, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat terlebih pada generasi muda. (zen/fin/pur)

Berita Lainya